BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah Islam merupakan bidang studi Islam yang banyak menarik
perhatian para peneliti, baik dari kalangan sarjana muslim maupun non muslim.
Karena dari penelitian itu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian
tersebut.
Sementara itu, bagi para peneliti barat mempelajari sejarah Islam
selain ditujukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk
mencari kelemahan dan kekuatan umat Islam agar dapat dijajah dan sebagainya.
Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah Islam banyak
berasal dari hasil penelitian sarjana barat. Hal ini terjadi karena selain
masyarakat barat memiliki etos keilmuan yang tinggi, juga didukung oleh dana
dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpinnya. Sedangkan para peneliti
muslim tampak disamping etos keilmuannya rendah, juga belum didukung oleh
keahlian di bidang penelitian yang memadai, serta dana dan dukungan politik
dari pemerintah yang kondusif.
Dari problematika di atas, kita sebagai pelajar muslim perlu untuk
mempelajari ataupun meneliti sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim,
barat dan juga di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses perkembangan studi islam di dunia muslim ?
2. Apa saja metode yang digunakan dalam proses perkembangan studi islam di
dunia muslim ?
3. Bagaimana perkembangan studi islam zaman kejayaan islam klasik ?
4. Bagaimana perkembangan studi islam di zaman kontemporer?
C. Tujuan
A. Mengetahui
proses perkembangan studi islam di dunia muslim.
B. Mengetahui
metode yang digunakan dalam proses perkembangan studi islam di dunia
muslim.
C. Mengetahui perkembangan studi islam zaman kejayaan islam klasik.
D. Mengetahui perkembangan studi islam zaman kontemporer.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Studi Islam Di
Dunia Muslim
Studi
islam sebagai sebuah praktek sesungguhnya sudah berlangsung semenjak awal
perumbuhan islam, yakni pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Apa yang dilakukan
oleh nabi bersama para sahabatnya dari waktu ke waktu merupakan bentuk studi
islam yang sesungguhnya . Mereka melakukan dan mempraktekkan studi islam dalam
makna yang sesungguhnya.
Studi
islam sebagai sebuah praktek pada masa nabi tersebut berlangsung dalam berbagai
bentuk. Para sahabat ketika itu melakukan berbagai kegiatan dalam usahanya untuk
memehami ajaran islam .ada yang bentuk khutbah,dalam bentuk dialog maupun dalam
bentuk forum-forum diskusi .tempat yang digunakan bermacam-macam ,tetapi yang
paling sering digunakan adalah di masjid (halqah dan ribath).
Pada
masa selanjutnya ,studi islam berkembang dengan lebih baik. Halaqah
dirumah-rumah para ‘alim yang sifatnya individual ke sistem kuttab ,kemudian
berkembang lagi ke masjid dan masjid khan,dan kemudian berlanjut ke sistem
madrasah .Menurut Stanton ,khuttab sebagai lembaga awal yang melakukan kajian
terhadap islam dibagi menjadi dua,yaitu khuttab sekuler di mana yang diajarkan
adalah tata bahasa , sastra dan arimatika, dan khuttab agama ,dimana yang
diajarkan adalah khusus materi agama .
Sementara
Assari membagi khuttab menjadi khuttab yang berfungsi sebagai tempat untuk
mengajarkan baca tulis, dan khuttab yang berfungsi sebagai tempat untuk mengajarkan al-qur’an dan
dasar-dasar agama islam aspek penting
studi islam yang tidak bisa diabaikan dalam masa keemasan islam adalah
perpustakaan.
Perpustakaan
memiliki fungsi yang sangat strategis dalam studi islam yaitu sebagai ruang
baca, pusat aktivitas akademis, dan ruang akademisi.
Pada
masa selanjutnya, studi islam mulai berkembang tidak hanya di negara-negara
islam, juga masuk kenegara-negara Barat. Berkembangnya studi islam dibarat
ditandai oleh salah satunya penyalinan manuskrip-manuskrip dalam bahasa Latin
sejak abad ke-13 masehi sehingga bangkitnya zaman kebangunan Renaissance Eropa
pada abad ke-14. Implikasi dari kegiatan penyalinan naskah ini adalah
terbukanya perkembangan cabang-cabang ilmiah di Barat.
Walaupun
menimbulkan perdebatan secara luas, kegiatan penyalinan naskah tersebut terus
berlanjut tanpa bisa dihentikan. Implikasi lebih lanjut dari kegiatan
penyalinan naskah ini adalah dimulainya kajian secara serius terhadap islam
dalam berbagai dimensinya. Pada masa keemasan Islam, pada masa pemerintahan
Abbasiyah, studi Islam di pusatkan di Baghdad, Bait al-Hikmah. Sedangkan
pada pemerintahan Islam di Spanyol di pusatkan di Universitas Cordova pada
pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar Al-Dahil. Di Mesir berpusat di
Universitas al-Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fathimiyah dari kalangan
Syi’ah.
B. Metode
Studi Islam
Dalam
studi Islam dikenal adanya beberapa metode yang dipergunakan dalam memahami
Islam. Penguasaan dan ketepatan pemilihan metode tidak dapat dianggap sepele.
Karena penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang dapat
mengembangkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya mereka yang tidak menguasai
metode hanya akan menjadi konsumen ilmu, dan bukan menjadi produsen. Oleh
karenanya disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu
perlu diimbangi dengan kemampuan di bidang metodologi sehingga pengetahuan yang
dimilikinya dapat dikembangkan. Diantara metode studi Islam yang pernah ada
dalam sejarah, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua. Pertama, metode
komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek
yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. Dengan cara yang
demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua metode
sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah
dengan segala cirinya yang rasional, obyektif, kritis, dan seterusnya dengan
metode teologis normative.
Metode
ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan histories,
empiris, dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normative digunakan untuk
memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis
normative ini seseorang memulainya dari meyakini Islam sebagai agama agama yang
mutlak benar. Hal ini di dasarkan kerena agama berasal dari Tuhan, dan apa yang
berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu
dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan
berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal.
Melalui
metode teologis normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan
keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militan pada Islam, sedangkan
dengan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong Muda usianya ini dapat
dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam
kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang
dihadapi manusia.
C. Perkembangan
Studi Islam Zaman Kejayaan Islam Klasik
Pusat
penyebaran islam pertama kali adalah di jizirah Arab, yang kini di sebut Arab
Saudi. Dalam Negara ini, terdapat dua kota yang sangat historis dan menjadi
pusat perhatian dunia, yakni Mekah dan Madinah.
Kemampuan
dakwah islamtidak hanya di fokuskan pada kemampuan oral, namun juga di
kembangkan melalui dakwah tulisan. Karya-karya tulis tentang islam semakin hari
semakin menggema dan bertambah banyak. Khususnya di zaman abad pertengahan, di
saat Eropa dalam masa kegelaapan(the dark ages), dunia islam justru
dalam masa kejayaan(the golden ages) dan banyak melahirkan karya-karya
tulis gemilang dari para intelektualnya yang tekun dan bersemagat
membangun peradaban dunia. Dari sinilah,
Jazirah Arab yang kini lazim di sebut sebagai sebagai bagian dari wilayah Timur
Tengah(the Middle East) menjadi perhatian para pengkaji islam.
Pelacakan
informasi tentang islam di lakukan oleh para orietalis awal lebih terfokus pada
sumber ajaran Islam. Kajian terhadap Al-Quran dan Hadis menjdi perhatian utama
mereka.
Pater
the Vanerable (hidup sekitar 1094-1156) yang di laporkan banyak membuat
prakarsa tentang kajian keislaman. Kajian keislaman pada periode ini, meskipun
bersifat teologis, dalam beberapa hal sangat bersifat kritis terhadap
kajian-kajian islam terdahulu.Perhatian yang serius terhadap kajian islam di
wilayah timur tengah ini dapat di lihat dari hasil karya orientalis, Philip
K.Hitti yang pernah menulis A History of the Arab; joseph Schact , The
Origins of Muhammedan Jurisprudance dan An Introduction to Introduction
Islamic Law.
Pada zaman kejayaan islam klasik studi islam
dipusatkan diibukota negara, yaitu Bagdad. Di
istana pada zaman Al-Makmun (813-833), putra Harun Al-Rasyid didirikan Bait
Al-Hikmah , yang dipelopori oleh khalifah sebagai pusat pengembangan ilmu
pengetahuan dengan wajah ganda: sebagai perpustakaan serta sebagai lembaga
pendidikan (sekolah) dan penerjemahan karya-karya yunani kuno ke dalam bahasa
arab untuk melakukan akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan.(Harun
Nasution,I, 1985:68).
Setelah kedudukan islam di Madinah menjadi kuat,
umat Islam menentukan langkah berikutnya yaitu menakhlukan Mekah setelah
sebelumnya melakukan perundingan yang hampir tanpa kekerasan. Kesuksesan nabi
menjadi lengkap. Tempat-tempat suci seperti Kabah, sumur zam zam,, dan makam
nabi Ibrahim a.s dikuasai oleh umat islam. Dengan demikian, pusat pengembangan
Islam, yaitu Madinah dan Mekah.
Pusat studi islam Zaman Kejayaan Islam Klasik
|
NO
|
Kota
|
Lembaga
|
Pendiri
|
|
1.
|
Bagdad
|
1. Bait Al-Hikmah
|
Al-Amin
|
|
|
|
2. Madrasah Nizamiyah
|
Nizham Al-Muluk
|
|
2.
|
Mesir
|
Universitas Al-Azhar
|
Fatimiah (Syiah)
|
|
3.
|
Spanyol
|
Universitas Cordova
|
Abd al-Rahma III
|
D. Perkembangan
Studi Islam Kontemporer
Studi islam kontemporer yang
dimaksud disini adalah di negara indonesia.Studi islam di indonesia sebenarnya
telah berlangsung cukup lama. Namun demikian, format, orientasi, dinamika, dan
perkembangannya terus berkembang.
Pertama, studi
islam di indonesia telah dimulai sejak islam datang pertama kali di indonesia.
Pada masa itu, wilayah kajian keislaman belum masuk dalam masalah
keindonesiaan. Hal ini dapat diteliti dari kitab-kitabnya.
Institusi
yang berperan besar dalam masa ini adalah pesantren. Dalam perkembangannya
kemudian, berdiri madrasah diawal abad ke-20, yang disusul dengan berdirinya
perguruan tinggi diawal paruh kedua abad ke-20.
Kedua, pengaruh
pemikiran islam modern di Indonesia berawal dari pembaru pemikiran Timur Tengah
dan Asia Tenggara. Pada masa ini cenderung membentuk organisasi yang bergerak
dalam bidang perdagangan, sosial-keagamaan dan politik.
Ketiga, pada
masa ini banyak diantara para pemikir pra-Kemerdekaan menjadi oposan terhadap
pemerintah.
Keempat, perkembangan
islam modern baru berkembang setelah Nurcholis majid dalam pidatonya pada 3
Januari 1970 memberi statement tentang islam
yes, partai islam no!.
Kelima, pada
masa ini banyak menggunakan metode
berpikir Barat dalam mengkaji islam.
Asal
mula islam masuk wilayah Indonesia lebih banyak di bawa oleh kaum saudagar,
pedagang Muslim dari wilayah india maupun timur tengah yang kedatanganya ke kawasan Indonesia ini sambil berdagang.
Di
Indonesia, studi islam (pendidikan islam tinggi) dilaksanakan di 1nstitut Agama
Islam Negeri (IAIN) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN). Ada juga sejumlah
perguruan tinggi swasta yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan islam
tinggi sebagai salah satu bagian studinya.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
1. Studi
Islam sekarang berkembang hampir di seluruh negara di dunia, baik Islam maupun
yang bukan Islam.
2. Metode
pendekatan studi islam dapat disimpulkan ada dua cara yaitu metode komparasi
dan metode sintesis.
3. Pusat penyebaran islam pertama kali adalah di
jizirah Arab, yang kini di sebut Arab Saudi. Dalam Negara ini, terdapat dua
kota yang sangat historis dan menjadi pusat perhatian dunia, yakni Mekah dan
Madinah.
4. Asal
mula islam masuk wilayah Indonesia lebih banyak di bawa oleh kaum saudagar,
pedagang Muslim dari wilayah india maupun timur tengah yang kedatanganya ke kawasan Indonesia ini sambil berdagang.
B.
Saran
Kami
menyarankan bahwa studi Islam tidak
hanya kita dapat dari membaca dari makalah ini ataupun dari buku-buku tentang
studi Islam saja,
tetapi kita harus mencari kebenaran-kebenaran dan pembuktian-pembuktian dari
banyak hal yang menyangkut studi Islam.
Demikianlah
makalah ini kami buat, dalam makalah ini tentunya masih jauh dari kata
sempurna, oleh karena itu kritik dan juga saran yang komunikatif senantiasa
kami harapkan demi perbaikan makalah selanjutnya, dan semoga makalah ini bisa
bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Amin. 1996. Studi Agama Normatifitas atau Historis. Yogyakarta: Pustaka
pelajar.
Hakim,
Atang Abdul. 1999. Metodologi Studi
Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar
Studi Islam. Yogyakarta: Teras.
Nata,
Abudin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Rusadi, Imron. 30 Desember 2013. “Sejarah
perkembangan Studi Islam Di Dunia Islam Dan Barat”. http://imron160795.blogspot.com/2013/12/sejarah-perkembangan-studi-islam-di.html
Sahrodi, Jamali. 2008.
Metodologi studi islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.